| Suikoden Indonesia Forum |
Help
Search
Members
Calendar
|
| Welcome Guest ( Log In | Register ) | Resend Validation Email |
|
|
| Pages: (3) 1 2 [3] ( Go to first unread post ) | ![]() ![]() ![]() |
| Eldridge Harry |
Posted on July 14, 2009 07:49 pm
|
![]() The Prisoner of Curiosity Group: Stars of Destiny Posts: 1349 Member No.: 1499 Joined: March 03, 2009 |
Komentar buat Chrono...
Komentar buat Chrono... Komentar buat Chrono... Iya, jadi minim komen. Alasannya: Soalnya biasanya baca cerita Chrono di HP. Pas mau komen udah panjang-panjang nulisnya malah suka eror. Gak bisa direply... Makanya jadi sebel... Mau nulis lagi, males T_T Udah keluar gitu aja. Gak inget apa yang mau disampaiin. (IMG:http://www.laymark.com/i/o/116.gif) Harap dimengerti... (IMG:http://www.laymark.com/i/o/05.gif)Tapi, tenang aja. Kali ini beda lho *ada di warnet* Let's back to the topic, okay! Oh Mai Gawd, bukan? :sweat + :madesu Wih, kalau gitu siapa yah? (Masih nebak-nebak) Udah selesai bacanya :P 1. Omong" Iris itu cuma menguasai Rune lv. 1 ya? Abisnya selalu pakai Flaming Arrow mulu sich? Beda banget sama Jeane yang langsung pakai Angry Blow :D 2.Wo~o~ow, baru kali ini liat Jeane serius. Kemana ciri khas tersenyum nakal dan "tee-hee"-nya? 3. Luc... Meskipun tampak cuek bebek, dalam hati sebenarnya khawatir khan? Abis gak biasa ber-lebay-ria kayak Jeane dan Wilfred. Apa itu benar :D? 4. Wilfred nampaknya punya feeling ke Iris deh. Terbukti dengan sikapnya yang reckless itu. Apa masih dalam batas sekedar dari teman, lebih dari teman? Atau Wilfred memang orangnya begitu? Gak bisa diam kalau teman dalam masalah? 5. Saya masih penasaran dengan Pria berjubah yang bilang ke Kevin. Kamu itu apa? Siapa sich orang itu? *penasaran* 6. Akhirnya muncul juga senjata Kevin, hoho... (di profil) Kapan Kevin mau gunain senjata itu? 7. Oh, Nina~~, Kevin terjatuh, tersungkur dan terluka... Gimana nasib Kevin dalam pertarungan selanjutnya? *ngebayanginnya ngeri* 8. *gasp* ketika bagian dia ada disini. Apakah itu mengarah ke Pria berjubah sebelumnya? 9. Teruslah berkarya, Chrono, meskipun gak ada komen. Jangan membuat pembaca mati penasaran! :sweat Lebay yah :)) 10. Jangan lupa update cerita dan juga profilnya *ini orang banyak maunya, Harry pun akhirnya dijitak Chrono* FIGHT, Chrono v(^o^)v
|
| ChronoFalenas |
Posted on July 14, 2009 09:01 pm
|
![]() Bayubajraujwalandhakara Group: Stars of Destiny Posts: 1302 Member No.: 349 Joined: August 12, 2006 |
>:) >:) Dijawab ga ya... hahaha...
Jawab ah... 1. Iris masih dalam tingkat belajar, anggap aja di cerita ini, flamming arrows tuw bisa dinaikin skillnya, misal mulai dari nembakain satu panah sampe 30 panah... Tapi, sbenernya Iris bisa menggunakan skill lvl atasnya, tapi terlalu menguras tenaga kali ya... 2. Jeane gitu" tetep guru loh! :huhu 3. Tanya sama Luc sendiri aja... hahaha... terbukti kan, klo dia ternyata malah ikutan pergi nyelametin... :huhu 4. Liat aja nanti! hahaha... 5. Pria berjubah itu adalah.... ChronoFalenas!!! *dijitak* 6. (kok banyak ya?) Loh bukannya waktu pertama kali ketemu sama Yuber uda disebutin ya, kalo senjatanya Kevin itu sebuah senjata model baru yg dinamakan sebagai SHotgun oleh HVG? Hayo baca lg yg teliti!! 7. mungin akan begini... (IMG:http://www.laymark.com/i/o/45.gif) ato begini (IMG:http://www.laymark.com/i/o/109.gif) Hahaha... 8. (huff huff!) Sapa lagi sie emangnya? Ada musuh yg lain? 9. ((IMG:http://www.laymark.com/i/o/55.gif)) (IMG:http://www.laymark.com/i/o/61.gif) Makasih buat semangatnya... 10. *mengacungkan tangan ke arah Harry* (IMG:http://www.laymark.com/i/o/110.gif) Profil baru uda ditambah lagi tuw... :huhu :huhu
|
| ChronoFalenas |
Posted on August 13, 2009 05:43 am
|
![]() Bayubajraujwalandhakara Group: Stars of Destiny Posts: 1302 Member No.: 349 Joined: August 12, 2006 |
Ah... Akhirnya dapet ilham juga buat lanjutin... *sebenernya gara" hal lain" yg menghambat saya untuk nulis sie...* Buat semua pembaca makasih, uda nge-views cerita ini sampe 300sekian kali... @_@ (masih ga percaya TEP aja uda ke-views 5000 sekian kali... buseet...) :sweat
Baiklah, kali ini TEL (The Eternal Lands) akan berlanjut kembali, penasaran dengan nasib Kevin? Penasaran siapa pria misterius itu? Ato Siapa sebenarnya Gailvaethor? Baca aja ceritanya, karena pertanyaan yg terjawab hanya ada satu dari 3 pertanyaan tersebut! *digampar pembaca karena bikin penasaran 300%* :huhu Enjoy your time to read this! OwO ~Episode 122: Just Make It Flash~ “Well, well, aku rasa kalian tidak perlu bersembunyi lagi, aku mencium bau darah segar yang dikeluarkan oleh pemuda berambut coklat tersebut,” kata sang pria misterius berdiri di tengah pelataran di depan altar tempat Yuber, Gailvaethor dan Kevin bersembunyi. “Apa maumu!?” seru Yuber dari tempat persembunyiannya, ia berpikir mungkin bisa bernegosiasi dengan pria aneh yang berbahaya ini. “Kau tahu maksudku, Yuber,” kata pria misterius dengan nada yang mencekam. “Apa yang sebaiknya kita lakukan?” tanya Kevin sedikit ngeri, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia merasa tubuhnya mulai mengalami demam karena lukanya yang cukup parah. “Tenang, kita akan keluar dari tempat ini,” kata Gailvaethor dengan pasti. “Lalu kemana kita akan pergi?” tanya Kevin mulai pusing. “Muse City,” kata Yuber berbisik, “ke tempat tinggalku.” “Jika kalian tidak keluar maka aku yang akan datang kesana,” pria misterius itu terus menekan keadaan tiga orang yang bersembunyi di balik altar. Ia mengangkat tangannya dan sebuah gelembung hitam keluar dari tangannya. “Dread of Darkness, buat mereka keluar dari tempat persembunyiannya,” kata pria misterius itu dengan suara yang parau mengerikan. Dari gelembung hitam itu kemudian keluar makhluk-makhluk bayangan yang memanjang dan menjalar kearah altar tempat Yuber, Kevin dan Gailvaethor bersembunyi. Yuber membuka sarung tangan yang menutupi tangan kanannya, sebuah simbol Rune yang aneh terlihat di punggung tangannya. Kevin melihat hal ini dengan sangat terpesona, Eightfold Rune, salah satu True Rune yang hilang. Dan terakhir kali terlihat pada masa Fire Bringer War kedua, itupun tidak terlalu menonjol karena semua orang perhatiannya tertuju pada lima elemen Rune yang berperang. “Gailvaethor, kau bisa bantu?” tanya Yuber berkonsentrasi pada Rune miliknya. “Apapun untuk keluar dari tempat ini,” kata Gailvaethor dengan nada agak panik. Dread of Darkness merupakan sepasukan kegelapan yang bisa dibilang telah punah karena tidak ada necromancer yang tersisa di dunia ini. Mereka sangat berbahaya dan mengambil bentuk bayangan, makhluk hidup yang tersentuh olehnya akan mati seketika juga. “Apa yang dapat kulakukan,” kata Kevin dengan suara lirih, bagaimanapun juga ia tidak ingin menjadi beban bagi kedua orang ini. “Cahaya,” kata Gailvaethor. “Kau bisa menembakkan atau membuat cahaya yang cukup terang ke arah Dread of Darkness, itu akan menghalau mereka untuk sementara waktu.” “Kalau itu aku punya beberapa Flash Bullet,” kata Kevin tersenyum lemah. Ia mengambil sesuatu dari kantung di balik coat panjangnya, sebuah gulungan kain kulit. Ia membuka gulungan tersebut dan ternyata berisi delapan peluru yang sama dengan yang dia gunakan, namun peluru ini berwarna silver dan putih. “Setiap peluru akan menimbulkan sinar membutakan selama satu menit, jadi kalian memiliki waktu delapan menit untuk pergi dari sini.” “Kami berharap banyak padamu, Kevin,” kata Yuber tersenyum menenangkan kemudian kembali berkonsentrasi pada kekuatannya. Simbol Eightfold Rune yang lebih ia sering sebut sebagai Hachifusa mulai bersinar kemerahan di tangannya. “Gail, kau bisa membantuku memberikan kekuatan untuk membuat portal yang cukup besar untuk dilalui kita bertiga.” “Aku akan berusaha,” kata Gailvaethor tersenyum. Ia kemudian memusatkan pikiranya pada kekuatan Yuber dan membuat semacam “link” dengan Yuber. “Hssshhggg… Hssshhggg…” suara Dread of Darkness yang mencium aroma kehidupan di balik altar itu menjalar secara perlahan. “TARR!!” suara tembakan terdengar dari balik altar dan diikuti dengan sinar terang yang membutakan mata. “HHSSSHHAAAGGG!!!” desisan Dread of Darkness yang mengerikan terdengar dan ia menjalar pergi menjauh dari sinar. Namun aroma kehidupan yang begitu menggiurkan membuat makhluk bayangan tersebut kembali lagi setelah cahaya yang ada mulai meredup dan menghilang. “Bagus Kevin! Teruskan usahamu!” kata Gailvaethor dalam hatinya, ia tetap memusatkan perhatian pada portal yang sedang dikerjakan. Dengan perlahan sebuah simbol mulai terbentuk di bawah tangan kanan Yuber, simbol itu terus melebar dengan desain yang semikin rumit dan bergerak semakin pelan. “Harus lebih besar, sampai tahap ketujuh, baru aku dapat membawa serta mereka berpindah tempat,” pikir Yuber, ia berkonsentrasi dan keringat mulai membasahi keningnya. Di bawah tangan kanannya, lingkaran-lingkaran emas terus terbentuk dengan pola rumit yang mengisinya. Sekarang telah terbuat lima lingkaran dan sedang membentuk pola didalam lingkaran ke enam. Namun kekuatan ini semakin lama akan semakin lambat prosesnya karena membutuhkan energy yang terus menyedot dengan kuat. “Ini peluru ke enam,” kata Kevin pelan, ia telah mengisi kembali shotgun miliknya dengan Flash Bullet. Dari desisan yang dikeluarkan oleh Dread of Darkness, Kevin tahu bahwa jarak yang memisahkan mereka semakin dekat, belum lagi Flash Bullet yang dipakainya makin lama semakin tidak terlalu berguna. “Sedikit lagi!” kata Yuber berkonsentrasi semakin kuat, sekarang lingkaran ke enam telah jadi dan pola untuk lingkaran sudah sampai tahap akhir. Kemudian dengan sangat pelan lingkaran terbesar mulai terbentuk. “Ayolah, The Seventh Fold, sedikit lagi!” “Hssshggg!!” desisan itu begitu dekat, dan Dread of Darkness sudah ada di atas altar, tubuhnya yang seperti bayangan berdiri dan siap menerjang Kevin yang ada di bawahnya. “TARR!” Kevin menembakkan peluru ketujuh tepat ke arah makhluk tersebut. Ia menutup matanya tepat sebelum cahaya membutakan itu memancar dari peluru yang ditembakkan. “HSSSHAAGG!!” kali ini tembakan telak itu membuatnya mundur hingga beberapa anak tangga ke bawah. Kevin yang tiba-tiba merasa cukup kuat berdiri dan menggunakan altar untuk menopang tubuhnya, ia mengisi shotgunnya dengan Flash Bullet terakhir dan membidik ke tempat makhluk mengerikan itu seharusnya berada. “Eh,” Dread of Darkness sudah tidak ada di tempatnya, mata tajam Kevin melihat bagaimana bayangan itu membelah jadi dua ke sisi kanan dan kirinya. “HSSSHHHAAAAGGG!!!” desisan kematian itu terdengar nyaring, dua makhluk bayangan itu menerjang Kevin dari dua sisi. “Selesai! The Seventh Fold!” seru Yuber lega dan bangga dengan jerih payahnya. Ia baru menyadari hal yang terjadi disekitarnya. Kevin yang setngah berdiri yang bersandar pada altar dan dua Dread of Darkness yang menerjangnya. “KEVIN!!” seru Gailvaethor dan Yuber bersamaan, mereka menarik Kevin dari tempatnya dan membuat Kevin menembakkan Flash Bullet terakhirnya. Sebelum akhirnya Seventh Fold yang dibuat Yuber bersinar keemasan dan membawa ketiga orang tersebut pergi. “OOOUUGHH!!” zombie itu bertubuh laki-laki setengah baya dengan perut yang bolong, isinya telah habis dimakan zombie lain dan darah segar masih menetes. “Ka-kakak… I-ini aku, kak! TIDAAK!!” seorang anak perempuan berambut pirang terpojok tak berdaya. “The Shredding!” sebuah angin yang memotong zombie tersebut berkelebat dan memotong kepala zombie yang mengerikan tersebut. Luc muncul dari balik tubuh zombie tak berkepala yang jatuh tak bergerak lagi. “Kau tidak apa-apa?” “Ka-ka-KAKAK!! HUWAAA!!!” anak perempuan itu menangis tersedu-sedu, saat Luc menggendongnya ia memukul-mukul Luc dengan tangan kecilnya. “Kau membunuh kakakku!” “Kakakmu sudah mati sejak lama, ia hanya zombie yang tidak menganggapmu sebagai adik lagi!” kata Luc dengan dingin. “Sekarang diam, kau akan membuat zombie-zombie lainnya berdatangan!” “KAKAK!!” anak perempuan itu terus menjerit dan meraung. Angin berbau manis tercium sesaat dan tiba-tiba anak tersebut tertidur. “Wind of Sleep…” kata Luc menurunkan tangannya dari kepala anak tersebut. Ia kemudian berteleport kembali ke tempat yang lainnya tadi berada. To be continued…
|
| Eldridge Harry |
Posted on August 13, 2009 07:44 am
|
![]() The Prisoner of Curiosity Group: Stars of Destiny Posts: 1349 Member No.: 1499 Joined: March 03, 2009 |
Wuogh, akhirnya Kevin pun beraksi ya! Hebat ya dalam keadaan begitu masih bisa maju.
Gail ama Yuber bisa nyambung ya. Apakah ini membuktikan kalau Gail memang bukan orang biasa ya? Nampaknya ada juga calon karakter baru ya disini ya, Chrono-sensei. Hoho... :D
|
| ChronoFalenas |
Posted on September 05, 2009 05:34 pm
|
![]() Bayubajraujwalandhakara Group: Stars of Destiny Posts: 1302 Member No.: 349 Joined: August 12, 2006 |
@Harry: Hahaha, iya emang si Gail itu bukan orang biasa, kira" dia apa ya? Hahaha... Yah, Kevin harus bisa beraksi donk, meskipun cuma nembak di tempat, toh kemampuan bertarung dia emang ga perlu banyak gerak... :D
Nah, sekarang akhirnya punya waktu juga untuk melanjutkan kisah ini.. terima kasih bagi orang" yg uda nge views dan hasil viewsnya itu saya ga nyangka uda 440an aja... Hahaha... Klo ada waktu buat komentar jangan malu", karena saya juga perlu feedback dari semuanya... Thx! Met baca lanjutannya yg sengaja saya bikin agak panjang ini... ~Episode 123: Reunion of Fate~ “ZIING!!” sebuah cahaya terang bersinar ditengah kota Muse, hal ini langsung menarik perhatian para penduduk kota yang telah menjadi zombie. Dengan langkah terseok-seok mereka mendekati cahaya tersebut berasal. Suara erangan mematikan memenuhi pusat kota. “Mereka, apa yang mereka lakukan? Apa yang terjadi?” tanya Iris seraya bersembunyi di kegelapan sebuah gang sempit. Dibelakangnya terdapat Jeane, Wilfred, dan Luc yang menggendong anak yang diselamatkannya. “Tampaknya ada sesuatu yang menarik perhatian mereka,” kata Wilfred menambahkan. “Dari arahnya, mereka menuju ke pusat kota, ke jalan besar di depan City Hall,” kata Jeane berspekulasi, kemudian ia berjalan maju untuk melihat lebih jelas. “Ayo kita ikuti mereka!” “Apa! Tapi Miss Jeane, eh uh, itu…” Iris tidak melanjutkan kata-katanya. “Loh, kemana Iris yang pemberani tadi?” tanya Jeane menyindir. “Hihi –ugh!” Wilfred yang terkikik langsung disikut oleh Iris di perutnya. “…… aku akan menunggu di tempat persembunyian kita,” kata Luc berjalan pergi, ia menggendong anak perempuan yang sekarang tertidur pula situ di punggungnya. “Ah, mister Luc tung–” sebelum Iris sempat menyelesaikan kata-katanya, Luc telah berteleport menghilang. “Ah, kenapa sih dia?” “Haha, Luc memang begitu, kau akan terbiasa nanti,” kata Jeane hanya tersenyum. “Ayo kita kesana!” “Aih, tu-tunggu Miss Jeane!” Iris meragu sebentar sebelum akhirnya ia menarik tangan Wilfred. “Kau juga cepat!!” “…… dasar Iris,” kata Wilfred pelan. Mereka bertiga pun berlari menyusuri kegelapan kota dan sebisa mungkin tidak melakukan kontak dengan zombie. Well, semua itu menjadi mudah sekarang, para zombie telah tertarik atensinya pada sesuatu yang ada di tengah kota. Jeane sebenarnya merasakan adanya energy Rune yang kuat dan familier. True Rune kah? Siapa lagi? Perlahan sebuah lingkaran cahaya terbentuk di tengah kota, kemudian muncul lingkaran kedua yang lebih besar dan lingkaran ketiga dan seterusnya, hingga terbentuk tujuh lingkaran yang saling melingkari. Tiga sosok samar mulai terlihat di tengah lingkaran. “Ouuugghh!! Ouugghhmm!!” erangan mengerikan terdengar banyak sekali, mereka mencoba mendekati lingkaran namun saat melangkah pada jarak kurang dari 2 meter dari lingkaran, tubuh para zombie itu mulai terbakar. Namun dengan nekat, para zombie itu semakin mendekat sampai berubah menjadi abu. “ZUUNG!!” tiga sosok samar itu sekarang menjadi sosok yang lebih nyata. Seorang pemuda berambut coklat yang dikuncir dan tampak terluka, seorang pria berkulit gelap dengan baju native yang cukup aneh dan seorang pria dengan rambut pirang panjang yang dikepang hingga sepunggung. Kevin, pemuda berambut coklat itu, langsung terkapar di lantai batu. Gailvaethor yang berkulit gelap langsung mendekatinya dan memeriksa lukanya. Sedangkan Yuber tampak memerhatikan sekelilingnya. Ia mengangkat tangan kanannya dan dua lingkaran cahaya terluar melayang naik. Dengan jentikan jari, lingakaran ketujuh dan keenam itu membesar dan menyapu zombie-zombie yang berada disekitar mereka. Membakar dan memotong tubuh atau kepala mereka. Jeane menatap bagaimana para zombie itu dibantai dalam satu serangan luas, dibelakangnya Iris dan Wilfred juga terkesiap dan menatap kekuatan Rune yang tidak dikenal tersebut. “Eightfold Rune,” kata Jeane lirih, ia tidak percaya akan bertemu dengan Yuber di tempat ini. Apa dia masih kejam seperti dulu, atau jangan-jangan dia yang menyebabkan ini semua terjadi? “Eigh– apa?” tanya Iris yang mendengar sekilas kata-kata Jeane, ia begitu terpesona melihat kekuatan Rune ternyata bisa sekuat itu. Kira-kira kapan, dia dan Wilfred dapat menggunakan kekuatan maksimal mereka? “Ah,” Jeane teringat dengan kata-kata Luc saat mereka berangkat, “jangan-jangan dialah yg orang yang dicari oleh Luc?” “Apa kita akan membantu mereka?” tanya Wilfred membuyarkan lamunan Jeane, “aku rasa zombie-zombie itu terlalu banyak untuk mereka.” “Miss Jeane, bagaimana?” tanya Iris yang menyadari jika Jeane masih terpana. “Ah, eh, ehm, kita lihat dulu perkembangan mereka.” “Hei, Kevin, kau bisa dengar aku!?” tanya Gailvaethor agak cemas, ia masih ragu apakah Kevin tadi terkena serangan Dread of Darkness atau tidak. Namun ia merasa cukup lega saat melihat Kevin masih bernapas. “Ugh, Gail,” kata Kevin lirih, ia membuka matanya dan seluruh pandangannya seakan berputar. Kemudian tercium bau menjijikan yang sangat familier di hidungnya. “Zombie!” Ia tersentak bangun sebelum meng-aduh karena kakinya yang terluka berdenyut sakit. “Tenang, Yuber akan mengurusnya,” kata Gailvaethor melihat ke arah Yuber, orang itu telah menggunakan kekuatannya untuk memusnahkan sebagian besar zombie yang ada. “Kevin, kau bisa berdiri?” tanya Yuber sambil terus memunggunginya. Tangannya terangkat dan bersiap menggunakan kekuatannya kembali. Zombie-zombie yang tersisa kembali melangkah maju, beberapa merayap karena tubuhnya terpotong dari kakinya. “Ugh, yeah, aku rasa begitu,” kata Kevin masih pusing. Gailvaethor membantunya berdiri dan menopang tubuhnya di bahunya yang lebar dan kuat. “Kau bisa berlari?” tanya Yuber dengan nada dingin. “Keadaan disini ternyata diluar dugaan.” “Aku akan berusaha,” kata Kevin pelan, ia begitu marah pada dirinya sendiri karena paling lemah dan hanya menjadi beban. “Tenang, aku akan membantumu,” kata Gailvaethor tersenyum padanya. Ia menatap Yuber. “kearah mana?” “Ouhhm…” satu zombie tiba-tiba muncul dari gang dibelakang Iris dan Wilfred. “Kyaaa!” pekik Iris panik seraya mencoba menjauh dari tempatnya berdiri, secara tidak sengaja ia malah terjegal oleh kakinya sendiri dan jatuh. “Wilfred! Awas!” seru Jean mengacungkan tangan kanannya ke arah sang zombie, “Angry Blow!” Petir menyambar melewati wajah Wilfred hanya beberapa senti jauhnya, langsung menyambar sang zombie dan membuat kepalanya terlepas dari lehernya. “Apa itu disana!?” seru Kevin melihat kilatan cahaya dan suara petir yang menggelegar di sebuah gang diantara dua rumah besar. “Rune?” tanya Yuber Nampak bingung. “Tapi siapa?” “Aku rasa tidak hanya kita yang memiliki kekuatan lebih disini,” kata Gailvaethor menatap tempat asal kilatan cahaya tersebut berasal, ia menatap Yuber yang mengangguk ke arahnya. “Kita ambil resiko,” kata Yuber serius. “Ayo!” Yuber mengangkat tangannya dan membuat seluruh lingkaran emas beterbangan ke segala arah. Mementalkan atau memotong zombie-zombie yang ada. Ketiga orang tersebut langsung berlari ke arah tempat yang mengluarkan kekuatan Rune, sebuah gang diantara dua rumah. Mereka berharap bantuan, bukan musuh yang lebih merepotkan. “Kau tidak apa-apa?” tanya Jeane menolong Iris untuk berdiri. “Ya, maaf, aku kurang waspada,” kata Iris memegang erat tangan Jeane, saat ia berdiri rasa sakit menusuk kaki kanannya. “Aww, aku rasa aku terkilir…” “Ah, kaki sebelah mana,” kata Wilfred langsung mendekati Iris. “Aku rasa dengan Rune milikku akan sembuh.” “Sebaiknya begitu,” kata Iris meringis kesakitan, ia berdiri dengan Jeane menopang tubuhnya. “Water Rune, sembuhkanlah!” kata Wilfred berkonsentrasi. “Kindess Drop!” Wilfred memegang pergelangan kaki Iris dengan pelan dan telapak tangannya bersinar, menimbulkan rasa dingin dan langsung membuat Iris merasa baikkan. “Ah, lebih baik, trims Wilfred!” kata Iris tersenyum senang. “Ah, bukan apa-apa,” Wilfred langsung berdiri dan menatap ke arah lain, mukanya memerah malu melihat senyuman Iris. “Drap! Drap! Drap!” suara langkah kaki yang berlari mendekati Jeane, Iris dan Wilfred. Jeane langsung waspada dan bersiap melontarkan kekuatannya lagi. Sosok besar dan tinggi tiba-tiba muncul di depan mereka. “Kyaa!” Iris berteriak kaget dan membuat Jeane tanpa sengaja melontarkan sebagian kecil kekuatan Thunder Runenya. “Eits!” sosok besar itu segera menghindar kesamping dan membuat serangan Jeane menuju ke arah orang besar di belakangnya. Orang besar kedua itu menyadari disaat terakhir dan berhasil menghindari serangan Jeane hanya beberapa senti dari tubuhnya, dan serangan itu melesat ke ruang kosong di belakang mereka meskipun sempat menyerempet orang yang ditopang orang besar kedua. “W-WAAW!!” seru orang yang ditopang oleh orang besar kedua, asap tipis mengepul dari rambut coklat mudanya yang sekarang berdiri sebagian karena tersetrum. “Yu-YUBER!!” seru Jeane terkejut saat menyadari orang pertama yang muncul. “Hmm, ka-kau, aku pernah melihatmu beberapa kali,” kata Yuber melihat Jeane kemudian ia menatap dua orang anak sekolah yang ada dibelakangnya. “Ah! Greenhill, New Leaf Academy! Aku ingat siapa kau!?” “Well, sudah sepantasnya kau ingat,” kata Jeane langsung mengubah nada bicaranya menjadi sedikit husky yang menjadi nada trademarknya. “Jeane, sang Runemistress Legendaris,” kata Yuber tersenyum menatap perubahan sikap Jeane. Ia berpikir bahwa wanita ini akan menjadi kendala bagi Kevin nanti, jika ia tidak bisa menahan diri. “Well, aku rasa ini bukanlah suatu kebetulan berada di sebuah kota penuh dengan zombie.” “Ah, kami kesini karena Mister Luc ingin mencari seseorang!” kata Iris memotong pembicaraan. “Ah, maaf, sa-saya Iris, Iris Clementa!” “Luc?” celetuk Yuber. “Kupikir ia telah mati 40 tahun yang lalu.” “Ceritanya panjang, mari ikut ke tempat kami,” kata Jeane langsung berbalik dan memberi isyarat agar Iris dan Wilfred mengkutinya. “Well, aku mau saja, tapi bisa tolong temanku ini?” tanya Yuber tersenyum sinis, senyuman khas yang telah lama ia lupakan. Seorang laki-laki berambut pirang dengan kulit agak gelap dan memakai native costume memasuki gang sambil menopang seorang pemuda berambut coklat muda yang setengah tersetrum. “Kalau tidak salah engkau memperburuk keadaannya tadi,” kata Yuber tersenyum mengejek pada Jeane yang dibalas dengan senyuman kecut dari Jeane. “Ah, maaf, ini kesalahanku,” kata Jeane mendekati Kevin. “Ah, ti-tidak ap-ap-apa-apa k-k-kok!” kata Kevin terbata-batadan mukanya muali memerah padam melihat Jeane. Ia bagaikan melihat bidadari turun dari khayangan. “Aduuh!” Yuber menendang pelan kaki Kevin yang terluka, dan Gailvaethor hanya tersenyum ramah pada Jeane. “Well, jika begitu ayo ikut kami,” kata Jeane berbalik badan dan kembali menelusuri jalan ke arah tempat mereka bersembunyi. Iris di depan bersama Wilfred, keduanya tampak bersemangat bertemu dengan orang-orang yang punya kekuatan. Yuber berjalan mengikuti bersama Gailvaethor yang membopong Kevin. To be continued…
|
| Eldridge Harry |
Posted on September 10, 2009 01:50 am
|
![]() The Prisoner of Curiosity Group: Stars of Destiny Posts: 1349 Member No.: 1499 Joined: March 03, 2009 |
Haha... Ceritanya lanjut *applause*
Meskipun bilang panjang, tapi teteup aja kurang panjang. Haha... Terlihat jelas Wilfred n Iris, haha... Kayaknya Wilfrednya nich yang punya hati. Apakah Iris juga demikian ya? Menarik, menarik! Pertemuan Kevin dkk dan Jeane dkk. Gail bilang kalau ada yg punya kekuatan lebih ya. Wew gayanya... Oia, siapakah dia yg dimaksud itu? *CMIIW* Lanjutkan, Chrono-sensei! Haha...
|
| ChronoFalenas |
Posted on October 04, 2009 12:51 am
|
![]() Bayubajraujwalandhakara Group: Stars of Destiny Posts: 1302 Member No.: 349 Joined: August 12, 2006 |
Whew.. punya juga kesempatan untuk melanjutkannya... Hmm, buat pembaca selamat membaca semoga suka sama ceritanya, bagi yg mau komentar jangan sungkan... *perasaan lagi gak enak*
Anyway, enjoy reading! ~Episode 124: Let’s Talk This Anyway~ “Tap.. tap.. tap..” suara langkah kaki menaiki tangga kau perlahan, meninggalkan suara menderit di setiap langkahnya. Kemudian langkah itu berhenti, diikuti dengan suara pintu yang terbuka. Luc memasuki ruangan persembunyian itu dengan seorang anak perempuan yang tertidur pulas di gendongannya. Ia menutup dan mengunci pintu dibelakangnya, memberi mantra pertahanan sederhana dan membaringkan anak perempuan tersebut di kasur empuk yang tersedia. “Kakak…” isak anak perempuan itu dalam tidurnya. Luc hanya menatapnya dingin dan menghela nafasnya pelan. Samar-samar ia mendengar suara petir menyambar dari arah pusat kota, dan juga merasakan kekuatan Rune yang cukup familiar. “Akhirnya kau datang…” kata Luc lirih, ia duduk di kursi kayu terdekat sambil memandangi tongkat kayu digenggammannya. Pikirannya mulai terbang ke masa lalu. “Tongkat ini adalah peninggalan seorang warlock yang dulu pernah berkunjung,” kata kepala desa Forest Village saat menyerahkan sebuah tongkat sihir pada Luc sebelum kepergiannya. “Warlock? Siapa?” tanya Luc heran, mengapa seorang penyihir meninggalkan tongkatnya pada orang-orang biasa. “Dia kenalan lama keluargaku,” kata kepala desa menjelaskan, “ia mengatakan ingin pension dan menitipkan ini pada keluargaku 70 tahun yang lalu, namanya Levi.” “Hmm,” Luc memandang tongkat itu dengan seksama, sebuah pentacle terukir di ujung tongkat dengan sebuah bola lapis lazuli berada di tengah ukiran pentacle. Disekitar ukiran itu tergantung lima bola kecil yang merupakan fragment dari lima Elemental Rune. Dengan panjang sekitar 60cm, tongkat yang terbuat dari greenwood itu tampak masih sempurna, getaran kekuatan mengalir pelan darinya ke tangan Luc. “Tok! Tok!” suara ketukan pelan terdengar dari arah pintu. “Pedo mellon a minno,” kata Luc dari kursinya. “Mellon,” sahut suara lembut dari balik pintu, jelas sekali itu suara Jeane. “Sebentar,” kata Luc berdiri dari kursinya ia melepaskan mantra pertahanan sambil berjalan mendekat ke pintu, membuka kuncinya dan membuka pintunya. Ia melihat Jeane yang memandang dengan sedikit kecemasan, Iris dan Wilfred berdiri dibelakangnya, dan tiga orang lainnya berdiri di belakang mereka. Satu orang tinggi dengan rambut pirang panjang langsung dikenalinya, Luc tersenyum dan mempersilahkan mereka semua masuk ke dalam. “Kukira kau sudah mati,” kata Yuber saat berpapasan dengan Luc di ambang pintu masuk, senyuman licik dan meremehkan khas miliknya ditunjukkan khusus untuk Luc. Meskipun baru datang kesibukan langsung terjadi. Kevin dibaringkan di meja kayu panjang di tengah ruangan, luka dikakinya cukup parah, tapi untungnya infeksi yang terjadi masih di tahap awal sehingga dengan membersihkan nanah dilukanya, memberikan pengobatan dengan Kindess Drop dari Wilfred dan menutupnya dengan perban telah menyelesaikan masalah. Kevin sekarang tertidur pulas di satu kursi panjang yang disediakan, anak kecil yang dibawa oleh Luc terbangun namun sudah lebih tenang ditemani Iris dan Wilfred. Anak itu bernama Claire Quesse, anak bungsu dari keluarga traders yang cukup terkemuka di Muse. Ayahnya telah pergi ke Kuskus untuk berdagang tiga hari yang lalu dan belum pulang sampai saat ini, sedangkan keluarganya yang lain dibantai para zombie yang menerobos masuk saat mereka belum sempat menutup pintu rumah. Ia bertahan bersama kakaknya, Chris, di lemari dinding kamarnya sedangkan ibu mereka berkeliaran dengan kelaparan. Disaat terakhir sebelum Chris menusuk ibu mereka dengan pisau dapur di kepala, sang ibu sempat menggigitnya. Chris membawa Claire kabur ke barat kota, tempat belum banyak zombie yang berkeliaran, namun kondisinya semakin buruk dan ia mulai berubah. Claire bergidik menceritakan kisahnya dan Iris menenangkannya dengan mengatakan betapa beraninya Claire dan memeluknya. Wilfred membelai rambutnya sambil menyenandungkan sebuah musik khas elf untuk Claire. Jeane, Luc, Yuber dan Gailvaethor duduk di sisi lain ruangan. Yuber dan Gailvaethor menceritakan bagaimana mereka bertemu dan insiden yang terjadi di White Deer’s Ruins. “Laki-laki misterius? Necromancer?” tanya Jeane bingung setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Yuber dan Gailvaethor. “Entahlah dia siapa,” kata Yuber mengangkat bahunya. “Ah, sudah pagi,” celetuk Gailvaethor menatap ke arah jendela ventilasi yang memancarkan cahaya matahari pagi ke dalam ruangan. “Kembali ke pembicaraan,” kata Luc dingin, “ada hal yang harus diperjelas disini.” Luc menatap Gailvaethor, begitu juga Jeane dan Yuber. “Siapa kau, Gailvaethor?” To be continued…
|
| ChronoFalenas |
Posted on October 24, 2009 11:18 am
|
![]() Bayubajraujwalandhakara Group: Stars of Destiny Posts: 1302 Member No.: 349 Joined: August 12, 2006 |
Hoi! Hoi! Kembali lagi akhirnya untuk melanjutkan cerita ini.... Hmm, tampaknya banyak yg liat tapi pada males komen apa yak? Hehehe... Well, it's okay, just comment this story if you have time to!
Enjoy reading!! ~Episode 125: Light Warior~ “Nin?” tanya Gailvaethor tanpa sengaja dengan bahasa asalnya, sebuah bahasa kuno yang banyak dipakai penyihir untuk mantra hebat mereka. “Ah, maksudku, memang hal ini harus diberitahu juga akhirnya.” “Bahasa yang barusan itu, bukankah¬¬–” kata-kata Luc dihentikan dengan anggukan setuju dari Gailvaethor. “Biar aku selesaikan dulu penjelasanku,” kata Gailvaethor memulai pembicaraan, “aku datang ke White Deer’s Ruins untuk memeriksa dan mencari sesuatu.” Saat wajah orang-orang didepannya menunjukkan ekspresi bingung ia melanjutkan kembali sebelum ada interupsi, “tak dapat kukatakan apa, rahasia dari misiku. Goheno nin.” “Apa hubunganmu dengan laki-laki misterius yang menyerang kita?” tanya Yuber tanpa nada menuduh atau menghakimi. “Laki-laki itu? Aku tak tahu siapa dia,” kata Gailvaethor serius, “dia mengganggu ketenangan White Deer’s Ruins dan lagipula, dia juga menyerang kalian tanpa alasan yang jelas kan?” “Hmm, aku juga tidak bisa menyangkal kata-katamu,” kata Yuber menerawang, “anehnya dia mengenal kita, terlebih ia mengetahui aku sebagai pemegang Eightfold Rune.” “Ia tahu?” tanya Luc tampak tertarik dengan pembicaraan ini. Yuber mengangguk dan pembicaraan pun berlanjut. Dari pembicaraan tersebut Luc menarik kesimpulan bahwa laki-laki misterius yang menyerang kota ini dan Yuber di White Deer Ruins memiliki kurang lebih motivasi yang sama dengannya 40tahun yang lalu saat Fire Bringers War kedua berlangsung. “Aku jadi berpikir, apa para undead ini juga menyerang kota lainnya juga?” tanya Jeane diakhir pembicaraan, ia tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika Greenhill bernasib sama dengan Muse. “Semoga saja tidak,” kata Gailvaethor, “namun, adakah cara untuk menghentikan ini, seperti obat atau mantra penyembuh yang dapat mengembalikan mereka kembali atau membinasakan mereka?” “Hmm, setahuku hanya ada dua cara,” kata Luc tenang, ia memngingat kembali masa kehidupan sebelumnya, “dulu juga pernah ada kejadian serupa, disebabkan oleh vampire bernama Neclord di Toran dan Dunan. Aku rasa kau kenal baik dengan siapa yang kumaksud, Yuber?” “Heh,” Yuber hanya tersenyum sinis mendengar ejekan Luc. “Cara petama adalah menghancurkan sumber pembuat onar ini,” kata Luc menjelaskan, “cara kedua adalah dengan menggunakan kekuatan Rune yang mengatur para makhluk tersebut atau menghancurkannya dengan Resurrection Rune yang sudah sangat jarang ditemukan sekarang.” “Moon Rune?” tanya Jeane menebak isi pembicaraan Luc mengenai cara kedua, Luc mengangguk setuju dengan tebakan Jeane yang benar. “Tapi kita tidak tahu dimana Sierra Mikain berada dan Keluarga Marley aku dengar mereka sangat misterius, hampir tidak ada yang tahu dimana mereka tinggal.” Kata Jeane sedikti frustasi. “Aku rasa aku dapat sedikit membantu,” kata Gailvaethor menimpali, “well, tidak sepenuhnya kuat, namun beberapa mantra kuno Sindarin terdapat juga cara untuk menghalau roh jahat atau sejenisnya yang memiliki kekuatan cukup besar.” “Ah, kau akhirnya menyebutkan sendiri juga asalmu,” kata Yuber tersenyum licik, “baru kali ini aku bertemu kaum Sindarin secara langsung.” “Haha, memang aku akan mengatakan ini cepat atau lambat,” kata Gailvaethor tetap tersenyum ramah pada Yuber. “Aku Gailvaethor adalah salah satu dari Suku Sindarin, julukanku adalah Light Warior.” “Ehm, kalau boleh tahu dima–” belum selesai Jeane mengatakan pertanyaannya, pembicaraannya langsung dipotong dengan gelengan ringan dari Gailvaethor. “Maaf, namun itu rahasia. Díheno i lû.” Selagi orang-orang tersebut melanjutkan pembicaraan mereka, sebuah pintu dimensi hitam terbentuk di tengah kota. Dari dalamnya keluar zombie-zombie yang lebih parah keadaannya dan monster-monster lain yang beragam bentuk dan mengerikan. Terik matahari pagi tidak membuat mereka surut, dan diakhir iring-iringan tersebut, keluarlah laki-laki misterius berjubah coklat dengan menggunakan tengkorak bertanduk sebagai topengnya, bulu-bulu hitam menghiasi topeng tengkoraknya bagaikan rambut. Sebuah mahkota emas kecil tergantung ditanduknya. Ia tak lain adalah laki-laki misterius di White Deer Ruins. “Pergilah anak-anakku!” seru laki-laki itu dengan suara parau yang mengerikan, “kuasailah kota ini dengan terror!” Kemudian laki-laki itu mengucapkan sebuah mantra panjang dan langit yang cerah secara perlahan mulai tertutupi oleh awan hitam dengan gemuruh petir. Para zombie dan monster langsung bergerak menyebar, kembali memenuhi kota, beberapa monster yang dapat terbang atau melompat langsung menerobos masuk melalui jendela kaca atau ventilasi rumah yang ada. Erangan kematian kembali memenuhi kota Muse di pagi itu. To be continued…
|
Pages: (3) 1 2 [3] |
![]() ![]() ![]() |