| Suikoden Indonesia Forum |
Help
Search
Members
Calendar
|
| Welcome Guest ( Log In | Register ) | Resend Validation Email |
|
|
| Pages: (3) [1] 2 3 ( Go to first unread post ) | ![]() ![]() ![]() |
| ChronoFalenas |
Posted on April 25, 2009 09:51 am
|
![]() Bayubajraujwalandhakara Group: Stars of Destiny Posts: 1302 Member No.: 349 Joined: August 12, 2006 |
Hei! Hei! Akhirnya wangsitnya turun juga... Wangsit buat nulis lanjutannya The eternal People hehehe... (IMG:http://www.laymark.com/i/o/03.gif) Kali ini bakal lebih banyak action dan intrik, semoga gw bisa terus catch up sama ceritanya... Hehehe.. Dukungan moral dan ide dari pembaca sangat dibutuhkan hehehe... (IMG:http://www.laymark.com/i/o/47.gif)
Enjoy the first chapter and episode... The Eternal Lands ~Chapter 1: The Return of Black (Episode 110)~ “Masuk,” kata seorang laki-laki tanpa menghiraukan apakah ada suara ketukan di pintu atau tidak. Ia berdiri di dalam ruangan gelap gulita, tepat berada di depan jendela kaca yang besar, menatap langit malam yang diterangi bulan purnama. Tidak bergeming sedikit pun meski semilir udara akibat kelebat seseorang terasa di dekatnya. Kemudian dari balik kegelapan dibelakangnya, beringsut seseorang mendekat, memasuki bagian yang diterangi cahaya bulan. Pakaiannya sama gelapnya dengan kegelapan dibelakangnya, menutupi hingga kepala, bahkan ia memakai kain hitam untuk menutupi wajahnya. Hanya mata biru keabu-abuan pucat aneh yang terlihat. Jelas sekali dia adalah seorang Ninja, sebuah klan yang sangat terjaga kerahasiaannya, bahkan bisa dibilang bernasib sama dengan Rune, hanya dipercaya sebagai Legenda. “Well, well, tidak kusangka akan bertemu lagi,” kata pria besar yang sedang menatap keluar jendela seraya memutar tubuh hingga berhadapan dengan pria misterius, tubuh besarnya tampak sebagai silhuet yang mengerikan, ia berbicara tanpa keterkejutan sama sekali, “Kage”. “Tuan Yuber,” kata Kage sopan sambil menganggukkan kepala memberi hormat, “Sang Pemegang Eightfold Rune, saya membawa pesan untuk tuan.” Ia merogoh saku rahasia di lengan bajunya. Mengeluarkan segulung kecil perkamen. “Dari?” tanya Yuber singkat, nada heran terdengar cukup jelas, tidak banyak orang yang tahu keberadaannya sekarang, bahkan para pemegang True Rune lainnya. Kemungkinan orang yang tahu dia ada dimana hanyalah Leknaat. “Masterku, Fortune Teller Daeana,” kata Kage datar seraya menyerahkan gulungan perkamen pada Yuber. “Mastermu?” kata Yuber cukup terkejut, ia mengambil gulungan perkamen dari tangan Kage. “Sampai kontrak kami selesai,” kata Kage tenang. “Kau boleh pergi,” kata Yuber datar, Kage mengangguk dan langsung menghilang. Yuber menghela nafas dan membuka tali pengikat perkamen. Saat terbuka, perkamen tersebut isinya cukup singkat dengan tulisan yang berpendar kebiruan dalam kegelapan. Ia mulai membacanya. “When the Blue Moon arises in the night deepest sky, it’s your time to make the moves. Until all the Eternal People come and join in a force to against another darkness descendant.” Saat Yuber selesai membaca, perkamen tersebut terbakar habis tanpa melukai tangannya. Ia menginterpretasikan kata-kata tadi sebagi peringatan sekaligus ramalan. Fortune Teller Daeana, memang ia pernah mendengar nama itu. Ia kembali menatap langit malam, bulan telah ditutupi awan hitam dan hujan rintik-rintik mulai turun dari langit. Langit cerah mulai terlihat di ufuk timur, matahari yang hangat muncul dari balik awan kelabu, sinarnya merambat di sepanjang daratan. Hujan telah usai, dan garis pelangi yang melengkung indah terlihat di kejauhan. Orang-orang muali keluar dari rumah mereka, beberapa membuka tirai jendela dan memulai rutinitas keseharian mereka. Keramaian kota di pagi hari, para pedagang dan pembelinya, pengelana yang melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya tau baru datang dari kota lain. Kesibukan itu bagaikan lantunan lagu yang harmonis, mengekspresikan segala aspek kehidupan dan berbagai macam perasaan manusia. Inilah kota termahsyur di daratan hijau yang subur, ibu kota negeri Dunan yang damai, City State of Dunan, Muse City. To be continued…
|
| Mr.Strategist |
Posted on May 14, 2009 02:42 pm
|
![]() -Hongo Kanata Holic- Group: Stars of Destiny Posts: 780 Member No.: 1580 Joined: May 08, 2009 |
wew lumayan tapi saya tak tahu maksudnya apa?!?
|
| ChronoFalenas |
Posted on May 17, 2009 12:59 pm
|
![]() Bayubajraujwalandhakara Group: Stars of Destiny Posts: 1302 Member No.: 349 Joined: August 12, 2006 |
baca The Eternal People dulu... itu cerita pertamanya...
|
| ChronoFalenas |
Posted on May 24, 2009 12:30 am
|
![]() Bayubajraujwalandhakara Group: Stars of Destiny Posts: 1302 Member No.: 349 Joined: August 12, 2006 |
Hei! Hoi! Hai! Hihihihi!!!
Nie lanjutan ceritanya akhirnya ada juga.. hehehe... Kepada pembaca eternal people, smoga the eternal lands ga buruk" amat dan masih lebih seru dari pendahulunya, meskipun hal ini ga bisa diterapkan pada bagian pengetikan.. hehehe... jadi para pembaca harap sabar aja ya... maklum bukan penulis yg harus dikejar deadline... hehehe... Yawda, met baca dan menikmati.... ~Episode 111: Black Muse~ Pintu kayu tebal dan tua berdebam ditutup, seorang pria berdiri di depannya, sibuk memutar gagang kunci dari tembaga untuk mengunci pintu. Pria itu memakai tunic hitam yang tampak mahal dan elegan dengan kerah leher yang cukup tinggi. Ia menggunakan celana satin hitam mewah, sepatu boots hitam dan sarung tangan kulit hitam. Satu hal yang mencolok adalah rambut pirangnya yang panjang, yang ia kepang hingga sepanjang pinggul. Sekelompok anak kecil berkejar-kejaran saat melewati pria tersebut, serempak mereka manyapanya, “Selamat pagi, Mr. Black Muse!” “Pagi anak-anak,” sahut Black Muse tersenyum ramah, ia merogoh kantung di tunicnya dan memberi setiap anak sekeping uang perak, “gunakanlah untuk bersenang-senang.” Wajah ceria anak-anak tersebut makin cerah, terlihat sekali betapa bahagianya mereka, “terima kasih!” “Hahaha, sama-sama, kalau begitu aku pergi dulu,” kata Black Muse sopan. Anak-anak tersebut menyampaikan salam perpisahan dan melambaikan tangan hingga ia menghilang di ujung jalan. Sementara itu, gerbang kota yang megah tampak ramai, hiruk pikuk orang-orang yang berkumpul dan para pelancong. Semua orang yang akan masuk ke kota Muse harus diperiksa. Mereka harus menunjukkan entry permit –kartu penanda yang memperbolehkan mereka masuk ke dalam kota– dan beberapa sedang sibuk membuat kartu baru bagi para pendatang yang baru, setiap harinya hanya dibatasi tujuh orang yang boleh membuat kartu penanda baru. Hal ini disebabkan oleh kejadian tiga bilan yang lalu, seroang necromancer memasuki kota dan memanggil monster-monster sickle yang mengacau kota. Entah apa motif dari penyerangan tersebut karena sesaat setelah memanggil monster-monster tersebut ia hilang tanpa jejak. Beberapa saksi mengatakan bahwa ia berteleport pergi. Namun untunglah para penjaga kota sigap dalam menghadapi hal ini, sehingga tidak ada korban jiwa meskipun korban luka-luka ada dan kerugian yang cukup besar diderita para pedangan yang sedang berjualan. Black Muse mendatangi penjaga yang sedang bertugas di pintu gerbang, ia menunjukkan entry permit miliknya. Sang penjaga memeriksanya untuk beberapa saat dan menanyakan tujuan, lama ia akan pergi dan apakah ia akan membawa teman saat kembali. “Mungkin,” kata Black Muse singkat. “Kalau begitu,” kata sang penjaga merogoh kantung kulit di pinggangnya, “berikan ini padanya jika ingin masuk, namun ia tetap akan diperiksa sesuai prosedur yang ada. Dan jangan lupa untuk membubuhi tanda tanganmu dibaliknya, menunjukkan referensi darimu.” “Baiklah,” kata Black Muse menerima benda tersebut, sebuah entry permit sementara dengan bentuk badge yang cukup besar dengan bagian belakang yang dilapisi karton untuk membubuhi tanda tangan. Black Muse mengantungi badge tersebut dan bersiap pergi. “Hati-hati dalam perjalanan,” kata sang penjaga melepas kepergian Black Muse. Black Muse berjalan pergi melewati antrian panjang para pelancong dan pedagang. Ia berjalan hingga batas kota, di persimpangan jalan tanah yang berpasir dengan berbagai bentuk roda pedati menghiasi tanahnya. Jalanan didepannya yang melewati padang rumput dan menuju dataran rendah adalah jalan menuju pelabuhan Coronet. Jalan di kanannya merupakan jalan yang lurus memotong padang rumput dan berujung di pertemuan dua hutan yang lebat adalah jalan menuju Greenhill. Black Muse melangkah ke jalan di kirinya, jalan yang cukup landai ke arah teritori pegunungan, yang berujung pada jembatan tua dari desa Toto. Insiden empat bulan yang lalu di desa ini juga merupakan faktor yang membuat Muse bersiaga. Desa tersebut dibumi hanguskan, namun tidak tampak adanya mayat yang tersisa atau tanda-tanda penyerangan. Seakan penduduknya memang sengaja membakar dan pergi meninggalkan desa. Satu-satunya petunjuk yang ada adalah ditemukannya jejak beberapa orang –diperkirakan lima orang– yang diperkirakan datang ke desa ini setelah dibakar dan melakukan kerusakan pada puing-puing kuil di gua pemujaan. Jejak mereka tidak dapat diikuti karena menghilang begitu saja di tengah pelataran desa. Namun, Black Muse tidak menuju reruntuhan desa Toto, ia bejalan ke arah reruntuhan lainnya yang tersembunyi di balik hutan kecil di antara Kota Muse dan desa Toto. To be continued…
|
| ChronoFalenas |
Posted on May 24, 2009 12:36 am
|
![]() Bayubajraujwalandhakara Group: Stars of Destiny Posts: 1302 Member No.: 349 Joined: August 12, 2006 |
Langsung dikasih aja yah lanjutannya!!
hehehe... dan kayaknya bakal lama nggasih lanjutannya lagi karena lagi minggu" UAS, tapi gw usahain keep up bwat stelah minggu ini, soalnya uda libur slama 3 bulan... hehehe... :huhu Silahkan membaca... ~Episode 112: White Deer Ruins~ Gerbang batu itu menjulang tinggi di depan Black Muse. Sebuah simbol besar dipahatkan di gerbang. Di belakang Black Muse, matahari senja keemasan telah bersinar dan semakin redup. Hari menjelang malam dan ia masih sibuk memeriksa gerbang tersebut, mulai dari relief simbol, bahan serta kemungkinan-kemungkinan lain yang ada. Namun ia telah menemukan sesuatu yang baru secara tidak sengaja, di rumah kosong yang berada tidak jauh dari reruntuhan, ia menemukan tiga lempengan tembaga berbentuk segitga, segiempat dan segienam, entah apa gunanya tapi ia yakin benda-benda tersebut berasal dari tempat ini. Black Muse duduk di anak tangga teratas dan bersandar pada dinding batu yang kokoh, ia menatap langit senja yang mulai gelap. Tampaknya ia harus menginap di rumah kosong yang cukup berdebu itu untuk kesekian kalinya. Jelas sekali bahwa dulu rumah tersebut berfungsi sebagai penginapan, karena terdapat meja resepsionis dan beberapa kasur reyot di lantai dua. Ia merogoh kantung kulit yang berisi roti kering yang ia beli diperjalanan, mengunyahnya kemudian minum dari botol minum yang ia ikatkan pada ikat pinggangnya. Sudah dua minggu ia pulang pergi dari tempat ini semenjak pertama kali ditemukan olehnya. Kemudian ia berdiri dan memutuskan untuk kembali ke rumah kosong bekas penginapan. Sementara Black Muse beristirahat di rumah kosong, sebuah cahaya terang muncul didepan pintu gerbang batu, kemudian dari balik cahaya yang perlahan meredup muncul sesosok pria dengan pakaian tradisonal yang cukup unik. Ia berjalan mendekati gerbang batu dan menyentuh simbolnya dengan tangan. “Edro Annon,” katanya dan simbol tersebut bersinar terang diikuti suara benda berat yang bergeser. Gerbang batu tersebut bergeser terbuka namun hanya sebesar tubuh pria tersebut, ia melangkah masuk dan membiarkan gerbang terbuka. Black Muse terjaga dari tidurnya, dengan sigap mengeluarkan belati dari balik lengan bajunya. Beberapa saat kemudian jendela di lantai dua pecah diikuti dengan dentuman sesuatu yang menginjak lantai kayu. Apapun itu, membawa hawa yang jahat dan suara langkahnya tampak menuruni tangga kayu yang reyot. Dalam kegelapan, Black Muse menggenggam belatinya, dan bersiap untuk apapun yang datang menyerang. Raungan, bukan, erangan sesuatu tiba-tiba terdengar dari balik pintu masuk utama, dengan mata yang telah terbiasa dengan kegelapan, Black Muse melihat sendiri bagaimana engsel pintu terlepas dan pintu terbuka. Seseorang berjalan masuk dengan langkah gontai, ia langsung tahu dari bau yang tiba-tiba menusuk hidung, busuk, bukan orang, zombie. Seseorang berdiri di tangga teratas, gaya tubuhnya mengatakan bahwa ia bisa melihat Black Muse dengan jelas. “Well, well, senang bertemu dengan anda, Black Muse,” suaranya terdengar berat namun tegas, intonasinya meremehkan dan mengancam, “atau sebaiknya kupanggil, Yuber.” Kaca jendela disamping Black Muse dan yang berada di seberang ruangan pecah, beberapa zombie menerjang masuk, memenuhi ruangan dengan bau yang menyengat. To be continued…
|
| ChronoFalenas |
Posted on June 01, 2009 06:01 am
|
![]() Bayubajraujwalandhakara Group: Stars of Destiny Posts: 1302 Member No.: 349 Joined: August 12, 2006 |
Weleh... koq jarang yg komen, meski yg baca uda (tampaknya) ada sie... hehehe... (diliat dari hasil poll yg ud keisi..) Well, need your comment for the future progress and esp. for my laziness cure... hahaha...
Here's another episode, hope you like it! ~Episode 113: Ambush of Decayed~ Ruangan tersebut menjadi sangat gelap –bulan purnama yang menjadi sumber cahaya sekarang tertutup awan hitam, bahkan bintang-bintang menghilang dari pandangan– bau busuk yang sangat menyengat menjalari setiap sudut ruangan. Erangan yang berasal dari dunia lain memenuhi tempat itu, diikuti suara-suara kaki yang dengan berat diseret. Tangan yang sudah membusuk itu dipenuhi dengan belatung-belatung yang menggeliat-geliat liar. Darah kering membuat tangan keunguan tersebut tampak mengerikan seraya menerjang ke arah Yuber dari dalam kegelapan. Pisau perak tersebut melayang dengan anggun, memotong tangan yang membusuk itu bagaikan mengiris sebuah roti. Namun tanpa tanda-tanda kesakitan, badan tanpa tangan tersebut menyeruak maju, menampilkan wajah yang setengah hancur dengan potongan daging busuk yang hampir lepas. Zombie tersebut membuka mulutnya, gas kehijauan yang sangat busuk baunya keluar dari mulutnya, gigi-gigi kekuningan yang mulai menggelap karena darah dan tanah, terarah tepat pada leher Yuber. “Trek!” suara sesuatu yang saling terkait dan diikuti dengan gemuruh air dari saluran yang ada. Dengan derasnya, air mengalir keluar dari saluran air di tembok reruntuhan yang tinggi. Lempengan terakhir dari tembok semu yang ada di reruntuhan telah ditarik keluar, mengaktifkan kembali saluran air yang telah mati akibat difungsikannya sistem drainage yang sudah sangat tua tersebut. Pria berbadan besar dengan pakaian tradisional itu melangkah kembali menuruni tangga batu yang tinggi. “Satu masalah sudah selesai,” pikirnya seraya berjalan menuruni tangga, namun dalam benaknya ia tetap masih berpikir siapa orang yang bisa masuk dan mengaktifkan berbagai tombol kunci dari bangunan Sindar ini. Apakah pernah ada Sindarin yang pernah masuk juga kesini, tapi bagaimana dengan ular berkepala dua yang menjaga bilik terakhir, apa ia berhasil mengalahkan sang penyusup atau sebaliknya. “Ooough!!” erangan menyeramkan itu berhenti saat akhirnya sebuah tembakan menembus kepala sang zombie. “Tch, pengganggu,” kata sang orang misterius dari atas tangga, ia kemudian bergerak memutar tubuh dan memperlihatkan silhuet bagaimana jubahnya yang tampak berat ikut berkibar. Dalam kejapan mata ia menghilang dari pandangan, bagaikan bersatu dalam kegelapan. Yuber tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia dengan sigap langsung menghantam zombie yang berada di dekat pintu dan menghambur keluar. Menuju kegelapan malam yang misterius dan mencekam. Dari jalan setapak menuju ke arah Muse segerombolan zombie dengan terseok-seok mendekat ka arah penginapan tersebut. Kemudian dengan tiba-tiba sesuatu meloncat turun dari atas pohon di dekat Yuber. Dengan sigap, Yuber mengangkat pisaunya dalam posisi bertahan. “Hei! Tunggu dulu, teman!” kata sosok yang baru saja mendarat dengan berat dari atas pohon, meskipun suaranya yang cukup ceria –entah kenapa pada situasi seperti ini sekalipun– ia adalah seorang laki-laki dan tampak masih cukup muda. Ia memakai jubah berwarna gelap –kemungkinan hijau tentara tapi Yuber tidak dapat memastikannya– dengan tudung kepala yang menutupi kepalanya, dengan membelakangi Yuber ia mengangkat tangannya ke depan, memegang sesuatu yang tampak panjang dan sesaat kemudian terdengar letusan yang cukup nyaring ditelinga dan seketika itu, satu zombie di ujung jalan roboh tanpa bangkit lagi. Yuber tahu senjata apa yang dipakai orang tersebut, dan langsung menyadari dari mana ia berasal. “Howling Voice Guild?” tanya Yuber tanpa basa-basi. Laki-laki itu berbalik badan menghadap Yuber, “Kevin, Kevin Latkje.” Yuber langsung mengetahui pemuda tersebut, wajahnya sangat mirip dengan orang yang dikenalnya dulu, meskipun mereka ada di pihak yang berseberangan dalam Second Fire Bringer Wars. Nash Latkje. To be continued…
|
| ChronoFalenas |
Posted on June 09, 2009 12:24 am
|
![]() Bayubajraujwalandhakara Group: Stars of Destiny Posts: 1302 Member No.: 349 Joined: August 12, 2006 |
Kayaknya masi pada baca The Eternal People ya? Hehehehe...
Tapi klo yang baca fanfic yg ini di komentarin dunk! Hehehehe... Btw, jangan lupa dateng ya klo bisa tgl 13-14 Juni 09 klo mu Gath di UI pas acra Gelar Jepang 09.... Btw, ini lanjutannya lagi... hehehe... Enjoy your read! ~Episode 114: Howling Voice Guild’s Problem~ “Gerbangnya!” seru Yuber tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Gerbang batu yang sejak kemarin ia utak-atik dan tidak menghasilkan kemajuan sama sekali itu telah terbuka. Siapa yang telah membukanya, masa orang yang tadi menyerangnya di rumah kosong tadi? Orang yang dapat mengendalikan zombie, Neclord? Apa ia bangkit kembali? Pikiran itu terus berputar di kepala Yuber, seraya berlari mendekati gerbang batu di reruntuhan dan menyelip masuk. Di belakangnya, Kevin Latkje mengikutinya, seorang dari Howling Voice Guild. Bagaimana mungkin, orang dari Howling Voice secara tidak sengaja bisa bertemu?” kata Yuber dalam hatinya, memikirkan bagaimana anak muda ini tampak begitu kooperatif membantunya. “Kau bisa menutup pintunya?” tanya Kevin mengarahkan senjatanya ke arah segerombolan zombie yang terseok-seok mengarah ke arah mereka. Diikuti debuman keras ia menarik pelatuk dan menembakkan peluru mematikan. Senjatanya adalah sebuah pistol tanpa laras namun memiliki bentuk badan senjata yang besar, kekuatan tembakannya juga besar dan serangannya menyebar, ia menyebut senjata ini sebagai shotgun, temuan terbaru dari Howling Voice Guild. Zombie-zombie yang mengejar agak tertahan, tiga dari mereka langsung jatuh dan tidak bergerak lagi membuat zombie dibelakangnya terjungkal dan dengan bodohnya merayap untuk mendekat. Yuber menemukan sebuah tuas di dekat mereka dan menariknya turun, sesaat kemudian pintu batu bergeser menutup dan mereka diselimuti kegelapan. “Itu akan menahan mereka, setidaknya,” seru Kevin dalam kegelapan. “Ikut aku,” kata Yuber menjentikkan jarinya, sebuah cahaya kebiruan bersinar di dekat kepalanya, memberikan cahaya remang yang janggal. Mereka berdiri di dalam ruangan batu yang dingin, dengan empat pilar di tengah ruangan dan sebuah kolam kering di tengah keempat pilar besar yang mengapitnya. Di depan mereka terdapat lagi sebuah pintu batu yang lebih kecil, dan sebuah prasasti yang entah mengapa agak berbeda dengan yang ditemukan Yuber di depan reruntuhan. Ia memeriksa prasasti tersebut dan menyadari bahwa ini adalah sebuah puzzle yang harus disatukan untuk membuka pintunya. “Hah, tampaknya kita akan terperangkap disini cukup lama,” kata Yuber duduk di pinggir kolam yang kering, Kevin duduk disebelahnya. Ia mengeluarkan bungkusan roti yang dibawanya dan membaginya untuk Kevin. “Trims,” kata Kevin menerima bagian rotinya, kemudian ia mengunyahnya. “Ceritakan padaku, bagaimana seorang dari Howling Voice Guild bisa berada di sini?” tanya Yuber masih penasaran dan curiga akan keberadaan Kevin yang cukup mengejutkan. “Bisa dibilang dari sinilah akau akan menjelaskan…” kata Kevin. Kevin menjelaskan bagaimana ia bisa berada di Dunan, bagaimana ia ditugaskan untuk mencari Mond sebuah pistol legendaris yang merupakan pasangan dari Stern, dan telah hilang semenjak tiga bulan yang lalu. Entah bagaimana, tapi pencuri yang berhasil mencuri Mond ini pastinya sangat hebat, ia berhasil masuk keruang penyimpanan teratas dimana hanya orang-orang tertentu dan ketua Howling Voice Guild saja yang pernah masuk kesana. Penjagaan yang ketat baik penjagaan fisik dan magic juga luput untuk mengetahui kapan dan lewat mana pencuri itu masuk. Kecurigaan terjatuh pada orang dalam, namun tidak pernah ditemukan bukti sekecil apapun dari peristiwa ini. “Hingga akhirnya ada sebuah berita yang mengatakan adanya peristiwa pembunuhan di daerah Dunan, Chrom Village tepatnya. Kematiannya sangatlah jelas bahwa ia tertembak, dan tidak ada satupun orang dari Howling Voice Guild yang berada di Dunan pada saat itu. Maka, aku juga tidak tahu kenapa, tapi para pemimpin mengirimku untuk menyelidiki. Jejak yang dapat kuikuti hanya sampai di Coronet. Kemungkinan besar ia berada di Muse, namun aku tidak dapat masuk, maka dari itu aku kesini sejak kemarin.” kata Kevin menyelesaikan penjelasannya. “Tentu saja mereka mengirimmu, kau begitu lugu dan polos,” kata Yuber dalam hati, di lain pihak ia juga merasa simpatik dengan pemuda ini, bagaimana ia digunakan sebagai alat untuk mencari benda hilang. “Hmm, begitu, tapi kenapa engkau menginap di tempat seperti ini? Bukan sebaiknya kembali ke Coronet ato kota lainnya?” tanya Yuber lebih serius. “Ehmm, itu, karena aku pergi diam-diam karena tidak dapat membayar penginapan dan uang minum!” jawab Kevin tersipu malu sambil menggaruk-garuk kepalanya. “………………” Yuber tidak dapat berkata apa-apa, ia benar-benar anak yang bodoh. Namun tiba-tiba ruangan bergetar dan gemuruh sesuatu terdengar dari bawah lantai batu. Sesaat kemudian kolam kering tersebut kembali terisi dengan air yang cukup keruh. “Wuah! Apa ini!?” seru Kevin dengan sigap mengangkat kakinya dari kolam, sebelum sepatunya basah kuyup. “Ssshh! Diam,” seru Yuber mendengarkan suara sesuatu ditengah gemuruh air. Sesuatu bergeser, dan ia menyadari bahwa yang bergeser itu adalah pintu di belakang mereka, namun sesuatu yang lebih besar juga bergeser. Perlahan, kedua pintu batu diruangan tersebut bergeser terbuka. Satu memberikan jalan masuk ke reruntuhan dan satu lagi menghantarkan zombie-zombie yang telah menunggu untuk kesempatan masuk. To be continued…
|
| Eldridge Harry |
Posted on June 09, 2009 11:15 am
|
![]() The Prisoner of Curiosity Group: Stars of Destiny Posts: 1349 Member No.: 1499 Joined: March 03, 2009 |
Halo, Chrono...
Komentar ya... 1. Setting waktu Eternal Land masih sama kah kayak Eternal People? (40 tahun kemudian) 2. Apa alasan Chrono memilih nama Eternal Lands sebagai judul? 3. Perasaan Yubernya jadi terlalu baik deh. Ada apa dengan Yuber? Tanya kenapa? 4. Apa karakter di Eternal People bakalan muncul lagi di cerita Eternal Lands ini? 5. Kalau bisa tambahin humor ya... Segitu aja dulu^^ Sip, ayo lanjutin.
|
| ChronoFalenas |
Posted on June 09, 2009 12:22 pm
|
![]() Bayubajraujwalandhakara Group: Stars of Destiny Posts: 1302 Member No.: 349 Joined: August 12, 2006 |
hahaha...
Yup settingnya melanjutkan 3 bulan stelah chapter VIII, jadi kemungkinan besar terjadi bersamaan sama The Eternal People Ch. IX... Kenapa Eternal Lands? Karena, rencananya cerita ini lebih menjurus ke unsur geografi! Jadi udah bukan penjelasan tentang orang"nya, tapi udah menjurus ke perjalanan mereka sampe relasi dgn orang" (baru/temen lama). Lagipula, yang bisa dibilang masih "Eternal" dari dunia Suikoden salah satu unsurnya ya "Lands"nya... Yah, anggap aja Yubernya insaf sejak kejadian Suiko3... Ngeliat Luc yg terlalu obsesif dia jadi insaf dah.. hahhaha... *ditimpuk sama fans Yuber yg Galak* Siapa lagi sie char yang mau dimunculin? Ya uda pasti itu" aja, tapi dengan cerita yg baru pastinya, dan lebih komplex... Mungkin akan banyak char baru (original) ato beberapa char yang belum dikeluarin... hehehehe.... Humor, oke deh... rencana si Kevin Latkje pengen gw buat jd char yg polos, agak o'on dan akan sangat membantu untuk ngerecokin kerjaannya si Yuber... hehehehehe.... Thanx for your concern! And just wait for the next episode... hehehehe.... (tenang aja, biasanya lama kok keluarnya, tapi sekali keluar banyak... hahahaha)
|
| ChronoFalenas |
Posted on June 18, 2009 07:34 pm
|
![]() Bayubajraujwalandhakara Group: Stars of Destiny Posts: 1302 Member No.: 349 Joined: August 12, 2006 |
(IMG:http://www.laymark.com/i/o/108.gif) Lalalalalala.... WEQZ!! (IMG:http://www.laymark.com/i/o/117.gif) Uda pada ngeliatin aja! Wkwkwkwkw...
Akhirnya! Akhirnya!! (IMG:http://www.laymark.com/i/o/85.gif) Keluar juga lanjutan dari cerita ini!! Hahahaha...(IMG:http://www.laymark.com/i/o/106.gif) Selamat membaca... (IMG:http://www.laymark.com/i/o/99.gif) ~Episode 115: The Deep of the Ruins of Sindar~ “A-apa yang harus aku lakukan!?” seru Kevin bingung, didepan terdapat jembatan yang hancur di tengahnya dan sebuah sungai buatan yang cukup lebar mengalir dibawahnya. “Sudah, cepat lompat saja!” seru Yuber tak sabar, dibelakang mereka para zombie mulai terdengar suaranya, erangan-erangan kematian dan suara tubuh yang diseret. “Ta-tapi a-aku… Wuaaah!!” belum sempat Kevin menyelesaikan kata-katanya ia sudah didorong oleh Yuber, tubuhnya melayang dan hampir saja kakinya bertumpu di sisi jembatan di seberang. Dengan deburan kencang, Kevin tercebur di sungai yang airnya hitam karena malam, ia diselimuti dengan rasa dingin yang langsung menjalar ke tulang punggungnya. “AAA!! AAA!! TOLONG!! TOLONG!!!” seru Kevin sangat-sangat heboh, ia berkecipak-kecipak di air dengan kepala yang timbul tenggelam, ia mencoba berteriak kembali namun air mulai masuk ke mulutnya, membuatnya seperti berkumur-kumur, “TOOLOONG!! A’U GA’ BI’A BE’ENANG!!” Yuber melompat dengan anggun dari tempat Kevin tadi berdiri dan mendarat dengan mantap di seberang, ia berjalan mendekat dan berjongkok di pinggir jembatan yang rusak, tidak mengulurkan tangan atau mencoba melompat menolongnya. “YU’ER!! HEE’’LLE’EP!! AKU BE’UM M’U M’TI!!” seru Kevin terus berkecipak-kecipak mencoba menahan tubuhnya agar tidak tenggelam. “Boodooh…” kata-kata Yuber terdengar begitu lambat, namun Kevin tetap bisa membaca gerak bibirnya, “beerrdirii sajaaa, ittuuu kkaaann daanggkkaalllll…” “AP-” Kevin menyadari bahwa kakinya dapat menyentuh dasar sungai yang terbuat dari batu, saat ia berpijak dengan mantap ia menyadari tiga hal, sungainya mengalir pelan, tingginya hanya sepinggangnya, dan ia bisa meraih pinggiran sungai dengan tangannya dan naik sendiri. “Apa-apaan sih!? Air dangkal begini takut,” kata Kevin dengan muka merah padam dan mencoba mengalihkan pembicaraan dari hal paling memalukan yang pernah ia lakukan di depan seseorang yang baru ia kenal. Yuber tidak menunjukkan adanya ekspresi yang berubah dari wajahnya, meskipun sebenarnya senyum tipis terlihat di wajahnya saat ia berbalik badan membelakangi Kevin. “Ooouuuuhhmmm,” erangan mengerikan yang membuat bulu kuduk berdiri terdengar dari seberang jembatan. Zombie-zombie setengah busuk itu terus melaju meskipun jembatan telah putus, dan seiring dengan kerumunan lainnya di belakang, mereka mulai berjatuhan ke dalam sungai dangkal. “Apakah sudah selesai?” tanya Kevin masih tercenggang, jika ia terus melanjutkan kekonyolannya tadi, mungkin ia telah berada di dasar sungai bersama makhluk-makhluk busuk tersebut. Ia merinding dan juga gemetar karena kedinginan “Itu hanya akan menahan mereka sementara,” kata Yuber dingin, ia kemudian berjalan menjauh dari tempatnya berdiri, menuju ke bagian reruntuhan yang lain dalam kegelapan yang remang. Hanya sinar dari bintang-bintang dan bulan yang memberi mereka penerangan seadanya. “A-apa maksudmu?” tanya Kevin masih bingung dengan pernyataan Yuber yang kurang masuk akal baginya, jelas-jelas para zombie itu telah berakhir nasibnya. “Lihat saja sendiri kalau tidak percaya,” kata Yuber agak kesal dengan pertanyaan-pertanyaan Kevin yang kurang penting itu. “Mana? Mana? Tidak ada lagi,” kata Kevin melongok dari pinggir bebatuan sungai, air sungai itu begitu pekat dan hitam, tetesan-tetesan air dari rambut dan baju Kevin yang basah membuat gelombang-gelombang air di sungai. “Bodoh!” seru Yuber tiba-tiba. Kevin berbalik menghadap Yuber dengan segera dan sebuah tangan ungu kebiruan muncul dari dalam air, menangkap pergelangan sepatu boots Kevin yang terbuat dari kulit. Dengan suara berkecipak yang sangat pelan, satu kepala zombie muncul dari air sungai yang pekat diikuti dengan yang lain. Hal ini membuat Kevin tiba-tiba menjadi lemas ketakutan dan kakinya seakan membatu, sekeras apapun usahanya untuk melawan dan berlari menjauh, namun yang dapat dilakukannya hanya berteriak dengan tanpa sadar. “HHHHIIIIIIIIIAAAAHHHHHH!!!!!” To be continued…
|
| Y-F |
Posted on June 18, 2009 08:32 pm
|
![]() >>enter your title here<< Group: Stars of Destiny Posts: 489 Member No.: 1621 Joined: June 07, 2009 |
Waw fanficnya keren.. :D
saya seminggu ini ngabisin waktu buat baca yg eternal people..:D oh iya mw nanya,, siKevin itu keluarganya Nash ya? apakah anaknya?? :D apakah ibunya Sierra?? klo iya dia setengah vampir dong?? oh iya,klo jawabannya memberi spoiler buat cerita berikutnya jangan dikasih tau! :D saya suka hal2x yg membuat penasaran..
|
| Asahisou |
Posted on June 18, 2009 09:42 pm
|
![]() "Stop call me a kid!" Group: Stars of Destiny Posts: 863 Member No.: 1592 Joined: May 15, 2009 |
Wow, fanfiknya keren banget...
Penciptaan suasana dalam ceritanya sangat bagus, Sou bahkan sampai deg-degan sambil baca. Penggambaran tokoh original (Kevin) juga bagus. Walau pun Sou agak kurang jelas setiap perpindahaan satu chapter ke chapter berikutnya. Tapi tak apalah, jalan ceritanya tetap keren... BTW, cepat update ya. Penasaran sama lanjutannya nih :D
|
| Eldridge Harry |
Posted on June 20, 2009 08:53 am
|
![]() The Prisoner of Curiosity Group: Stars of Destiny Posts: 1349 Member No.: 1499 Joined: March 03, 2009 |
Asyik, akhirnya ceritanya lanjut XD
Tapi, baru baca bentar gak kerasa udah abis, yaaaah~ Hehe, makasih udah ditanggapin Chrono, rasanya cerita ini mulai terasa humornya^^ Lanjutin lagi ya, Chrono!! *gak sabar*
|
| ChronoFalenas |
Posted on June 21, 2009 09:33 pm
|
![]() Bayubajraujwalandhakara Group: Stars of Destiny Posts: 1302 Member No.: 349 Joined: August 12, 2006 |
(IMG:http://www.laymark.com/i/o/110.gif) Aaaaahhh!!!! Akhirnya! Bisa lanjutin lagi!!! Hahahahaha!!!(IMG:http://www.laymark.com/i/o/10.gif)
Hahaha, gw bener" suka sama si Kevin Latkje ini...(IMG:http://www.laymark.com/i/o/03.gif) Bisa gw apain aja nie karakter... Wkwkwkw!! Kevin itu bisa jadi begini (IMG:http://www.laymark.com/i/o/53.gif), begini (IMG:http://www.laymark.com/i/o/45.gif), begini (IMG:http://www.laymark.com/i/o/43.gif), ato begini (IMG:http://www.laymark.com/i/o/109.gif) Kevin Latkje: (IMG:http://www.laymark.com/i/o/71.gif)....... Jadi.... Met baca yak!! (IMG:http://www.laymark.com/i/o/99.gif) ~Episode 116: Struggle Alone~ “Kevin!” seru Yuber sontak langsung berlari mendekat untuk menyelamatkan orang yang bahkan baru ia kenal tersebut. Namun sesuatu menerjangnya dari arah samping, membuatnya terpental hingga menubruk dinding batu yang keras. “Awoooff!!” lolongan memilukan terdengar diseluruh sisi reruntuhan, dari sinar bulan yang samar, terlihat silhuet moncong serigala yang besar, menengadah ke arah langit malam, namun sesuatu yang janggal terlihat pada tubuhnya. Serigala itu tampak terlalu tinggi untuk ukuran serigala. “Thump,” langkah berat terdengar mendekati Yuber dan ia menyadari bahwa serigala itu berdiri di kedua kakinya. “Celaka, werewolf!” seru Yuber dalam pikirannya, “bagaimana bisa, jangan-jangan…” Tangan-tangan basah dan dingin mulai menggerayangi tubuhnya, memegang kakinya hingga tidak dapat digerakan dengan daging yang lunak karena telah membusuk. “Kevin, kau dalam masalah besar tampaknya,” bisik Kevin pada dirinya sendiri, rasa shock yang tadi menyerangnya telah berganti menjadi rasa takut akan kematian, anehnya, kematian itu sekarang berada di depan matanya dalam bentuk yang konkrit. Satu zombie sekarang telah merayap naik dari sungai, kepalanya yang tampak hampi putus mendongak kea rah Kevin, membuatnya bergidik karena segala hal menyeramkan yang telah ia hadapi atau alam tidak ada apa-apanya. Dengan wajah setengah hancur, kulit basah yang keunguan, Kevin menatap bagaimana mata zombie yang telah memutih seluruhnya itu meluncur dengan mudah dari rongganya. “Hiiiieeaaaa!! Hiiieeaaa!!” teriak Kevin seraya mengguncang-guncang tubuhnya agar lepas dari genggaman tangan-tangan kematian tersebut. Dalam tingkat kepanikan dan kehorroran yang terlalu tinggi itu usahanya sedikit membuahkan hasil, ia dapat merasakan satu atau dua tangan yang memegang kakinya melonggar. Kevin melompat dari tempatnya berdiri —tepat sesaat sebelum satu zombie mengoyak betisnya dengan giginya yang hitam kekuningan— dan mencoba berlari sejauh mungkin. “Eh,” celetuk Kevin saat kakinya yang masih setengah gemetar itu menginjak sesuatu yang cukup lunak, sekilas ia melihat benda apa itu —sebuah tangan yang terlepas dari lengannya— sebelum akhirnya ia jatuh terjerembab ke lantai batu yang keras. “Cplak,” dengan pandangan penuh horror, Kevin melihat bagaimana zombie-zombie tersebut mulai merayap naik dari sungai, semuanya memandang ke arah yang sama, Kevin. “Kaing!” pekik sang werewolf sebelum terlontar kedalam kegelapan dan tidak terdengar lagi suaranya. Yuber baru berdiri dari tempatnya tadi terpental, dibelakangnya tampak bebatuan yang hancur dari dinding yang ada tadi, saat mencoba berjalan ia measakan kesakitan yang menusuk di dalam tubuhnya. “Aku rasa tulang rusukku patah,” pikir Yuber masih ngos-ngosan, ia segera teringat tentang Kevin, “celaka! Anak bodoh itu… ugh.” “Inikah akhir hidupku?” tanya Kevin sudah sangat-sangat pasrah, semua hal yang dilihatnya seakan dalam gerakan lambat. Zombie-zombie merayap mendatanginya, satu yang terdepan telah siap menggigit kerongkongannya. Kevin menutup matanya. “SSSHHAAA!!! SSSSHHA!!!” suara binatang aneh terdengar sangat dekat, rasa panas karena api terasa membara di kulitnya. Kevin terbelalak, sebuah hewan yang mirip dengan kadal berdesis di depannya, seluruh tubuhnya terbungkus api, sebelum akhirnya ia menghilang. “A-apa itu?” tanya Kevin berbisik, kemudian ia menyadari satu hal, bau, bau daging gosong yang menyengat. Kevin duduk dari tempatnya terjatuh, zombie-zombie mengerikan itu tidak ada lagi, namun tubuh-tubuh gosong dengan asap tipis bergelimpangan disekitarnya. Dari kejauhan ia melihat seseorang keluar dari belokan dinding, Yuber. “Kevin! Belakangmu!” seru Yuber dari kejauhan. Sesosok besar berdiri di belakang Kevin yang tampaknya baru saja sadar dengan keadaan disekitarnya. To be continued…
|
| Eldridge Harry |
Posted on June 21, 2009 10:28 pm
|
![]() The Prisoner of Curiosity Group: Stars of Destiny Posts: 1349 Member No.: 1499 Joined: March 03, 2009 |
Hahaha, lanjutannya muncul. Lanjutannya muncul *gila*
Ini dia yang ditunggu-tunggu! Selamat ma-mam ...eh baca... ---several minutes later--- Komentar: Kevin memangnya gak bisa bertarung? Kerjaanya nge-banyol mulu :)) Chrono, udah disiapin belum apa senjatanya buat Kevin? :D . O'ya, nanti dibuat aksi kerennya Kevin ya, tapi tentu aja masih punya ciri khas si Kevin^^ Hahaha... Makin parah nich... selanjutnya apa ya yang muncul *penasaran* Lanjutkan^^!
|
Pages: (3) [1] 2 3 |
![]() ![]() ![]() |